Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama jajaran Forkopimda mendampingi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) RI, Wihaji, mengunjungi salah satu Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Desa Rancangkencono, Kecamatan Lamongan, Kamis (4/12). Kunjungan ini dalam rangka memastikan KRS mendapatkan pemenuhan gizi dan tempat tinggal yang layak sebagai bentuk pencegahan stunting.
Pendampingan ini, dikatakan Mendukbangga, untuk memastikan intervensi penanganan risiko stunting berjalan tepat sasaran. Beliau bersama Bupati YES meninjau kondisi rumah, dapur, dan akses air bersih sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam membantu keluarga rentan.

“Harapannya kita terus ke lapangan karena perintah Bapak Presiden, jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar. Kerja, cek lapangan, betul-betul dibantu,” ujarnya.
Setelah agenda peninjauan, rombongan melanjutkan kegiatan menuju Pendopo Lokatantra untuk peluncuran program Lansia Berdaya atau Sidaya. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan pemerintah terhadap kelompok lanjut usia agar tetap berdaya dan mendapatkan fasilitas yang memadai.
“Semoga ini bagian dari memastikan pemerintah hadir dan yang begini-begini kita cepat, karena syaratnya tidak rumit,” tambah Wihaji.
Adapun bantuan yang diserahkan Wihaji kepada KRS di antaranya bantuan rehabilitasi rumah senilai Rp50 juta, bantuan kendaraan, hingga beberapa bahan pokok. Harapannya bantuan ini dapat menunjang kebutuhan gizi dan sanitasi sehingga mencegah terjadinya stunting.
Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri terus melaksanakan berbagai program pencegahan dan pengentasan stunting secara menyeluruh. Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan dan TP PKK Kabupaten Lamongan menerapkan intervensi spesifik dan sensitif melalui serangkaian kegiatan seperti pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri dan ibu hamil, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita, kampanye pemberian ASI eksklusif, serta pemantauan gizi secara rutin.
Upaya ini juga didukung lewat program komunitas dan lintas sektor, misalnya Program 1‑10‑100, Monalisa Berdansa (Mobil Pelayanan Keliling Desa bersama Bidan Desa), dan pelibatan kader desa serta posyandu di desa-desa terindikasi risiko. Hasilnya signifikan, angka stunting di Lamongan dilaporkan turun dari sekitar 27 % pada 2022 menjadi 9,4 % pada 2023, dan 6,9 % pada 2024. Capaian ini lebih baik daripada rata-rata nasional, yang berada pada angka 19,8%.
Sumber: @prokopimkab.lamongan